3 Karakter Orang ditahun Politik

Bisa dibilang, aku benci tahun politik. Tahun dimana banyak orang saling caci, saling menyudutkan, parahnya fitnah dimana-mana, makin banyak yang jadi aktor pemeran drama demi drama untuk menarik hati rakyat jelata yang sejatinya selama ini hanya mereka manfaatkan untuk ditahun itu saja.

Kali ini, aku pen banget rasanya menyampaikan uneg uneg aku di tahun politik ini. Tentang bagaimana pandangan aku tentang 3 karakter orang ketika ada di tahun politik.

1. Tak tahu dan tak nak tahu

Ada ga? Buanyak sekali. Orang-orang yang masih cuek bebek tentang bagaimana karakter pemimpinnya. Yang difikirinnya cuma tentang kegalauannya seorang, kebaperannya seorang. Sama sekali ga ada sikab nasionalismenya. Boleh ga kayak gini? Jawab ndiri

2. Cinta buta

Artinya, dia begitu memuja calon yang dipilihnya. Mau itu firaun, yang penting dia sudah cinta buta. Ga mau lagi yang lain. Hanya melihat sisi buruk dari lawan politik calon pemimpin pujaannya. Bahkan segala cara dilakukan untuk menutupi sisi negatif dari pujaannya. Bisa dengan cara menjatuhkan lawannya, memfitnah, pokoknya butaaa sekali. Gimana ga jadi buta, yang ditonton dan dibaca cuma media mainstream yang memang di buat untuk pencitraan pujaannya.

3. Penampung sembako dan serangan fajar

Biasanya ini emak emak. Termasuk mak gue dulu. Suka sebeeeel kali. Papi juga dah sering marahin si mami ini, tapi tetep lah namanya juga emak emak. Dikasih bakal baju sama selendang tipis pun girangnya mengalihkan dunianya. Dah bolak balik di omelin tapi diem diem tetep terima begituan. Bahkan ni barusaaan aja, ada yang ngajakin ngambil sembako, hampir mau tuh, tapi untung taring gue dah makin tajem jadi akhirnya diem di rumah. Syukurlah..

Karakter ke empat bonusnya ni, yaitu tukang ketawain

Nah ini mungkin aku cenderung termasuk ke golongan ini. Kenapa? Karena aku bagian orang yang ketawa-ketawa geli liat mamas, babang, atuk, lelek berdebat tentang ini. Yang satu bela ini yang satu bela itu. Bahkan semangat pol polan ngebanggain pujaan yang menurut aku walaahh opo toh. Jadi inget cerita tetangga sebelah. Tetangganya tetangganya lagi ngefeeenns banget sama seorang presiden. Dibanggain setinggi langit. Pas dimintain uang kontrakan yang nunggak, eh malah bilang hidup dizaman sekarang serba susah, nyari hari ini ya habis hari ini. Terus dah mukanya melas minta ampun. Lah piye toh yooo.

4 karakter itu menurut aku lho ya. Cumaaaa, sebagai mantan aktifis (kalo masih dianggep 😊), tentu aku punya sudut pandang tersendiri dalam memilih seorang pemimpin. Bagi agama yang aku anutpun, ini sesuatu yang perlu. Aku ga sependapat sama pak Jokowi yang larang-larang bawa agama di dunia politik. Sama hal nya ketika kita sholat berjamaah. Seorang imam harus memenuhi kriteria. Bacaannya tepat dan tentu kalau bacaannya salah mau untuk dibetulkan oleh makmum dibelakangnya. Bayangin kalau imamnya ngeyel, dah salah, pas dibenerin ga mau denger makmum, bisa kacau sholat kita. Atau misal ada antara dua orang calon imam tapi 2 2 nya ga menuhin kriteria, maka pilihlah yang paling baik antara keduanya. Kalau bahasanya tu, yang paling sedikit mudharatnya. Menurut aku malah, kita harus selalu membawa keimanan kita dalam hal apapun. Jangan ditinggal-tinggal atuh pak. Mosok mau sekolah, agamanya ditinggal di rumah, sampai sekolah ya wes lah sembarang ae, nyontek, nyolong dikantin, soalnya agama yang melarang itu semua ketinggalan di rumah. Begitu juga waktu berpolitik, kalau agamanya ditinggal ya wes lah korupsi wae, makan hak rakyat wae. Semua aturan itu ada di agama, agama kita masing-masing lebih tahu bagaimana kita berjalan dengan sebaik-baiknya. Mosok sak enak e wae piye toh yoo..

Intinya, walau aku benci tahun politik, sebagai anak bangsa, aku punya komitmen sendiri dari lubuk hati yang terdalam. Aku cinta Indonesia, tempat aku lahir, sekolah, berkeluarga. Walau selama ini pemerintah mengecewakan aku pribadi, tetep aku sayang Indonesia, dan sampai detik ini masih merinding denger lagu Indonesia raya. Daaan tentu saja aku mengharapkan perubahan yang lebih baik untuk Indonesia raya ini. Menurut aku ya dengan cara #2019gantipresiden 

Dalam keadaan sadar, abis nulis ini kemungkinan aku bakal ditinggalkan banyak orang. Termasuk orang-orang penting dalam dunianya aku. Tapi aku fikir, biarlah.. anggap aja seleksi alam. Kalau kata bang Raditya dika, "jangan buang buang waktu sama orang yang salah". Jadi seperti hujan ajalah kayak kata Masgun. "Hujan akan tetap turun meski ia dibenci, karna dia datang bukan mereka". 

Meski tadi pun aku menggolongkan diriku digololongan tukang ketawain, bukan berarti aku menutup mata atas isu-isu yang berkembang dijagat raya ini. Bahkan aku sisihkan waktu 1 sampai 2 jam buat mantengin berita. Membandingkan setiap berita yang ada di tv, media sosial, bahkan kalau ada ling untuk bertanya langsung di TKP, aku lebih suka bertanya langsung agar berita yang aku dapatkan akurat. Makanya aku jadi suka ketawa ketiwi aja liat orang berdebat tapi yang didebatin hoaxnya kebangetan.

Sudah ya, bakal panjang nanti kalau diterusin. Tahulah bakal jadi tulisan seperti apa kalo diterusin😊.

Dadaaaahh


Comments

Popular posts from this blog

Without Allah I'm nothing

Awak ni Apeelaaah

Hanya Perlu Terbiasa #part2