Posts

Sederhananya Bahagia

Siapa yang tidak merindukan bahagia. Rasanya, setiap orang mendambakannya. Ada yang mendapatkannya dengan harga yang mahal, ada juga yang menyederhanakan bahagianya. Saya sendiri pernah membuat harga tinggi untuk mendapatkan sebuah bahagia. Mendapatkan nilai setinggi langit, punya gelar sepanjang-panjangnya, pekerjaan yang mapan, punya pasangan yang kriterianya seperti malaikat, dan masih banyak lagi. Tapi hari ini, saya merasakan bisa mendapatkan bahagia hanya dengan hal-hal yang sederhana. Bisa menantikan berbuka puasa hari ini, bisa membuat orang lain tersenyum hari ini, tiba-tiba dapat pesan dari teman yang lama tak berkabar, dan masih banyak ternyata bahagia yang bisa diperoleh dengan harga yang murah. Sebenarnya, kita juga bisa menjajakan kebahagiaan dengan harga murah kepada orang lain. Seperti halnya hujan dipenghujung kemarau. Yang dinantikan dan dirindukan jagad raya ini. Kehadiran kita untuk seseorang mungkin saja membuatnya jauh lebih baik. Setidakya membuatnya...

Belajar Adil pada Rasa

Bagi saya, hidup adalah belajar. Mungkin begitu juga bagi sebagian orang. Bagi saya sendiri, belajar itu diawali dengan mencoba melakukan sesuatu, jika salah, lalu mencoba memahami letak kesalahan, dan mencoba memperbaiki (Aksi-Fahami-Perbaiki). Kali ini, kita akan mencoba belajar untuk adil pada setiap rasa. Kalau kata lagu “ Aku Bisa ” nya Maidani, “ Saat terjatuh, jangan lupa bahwa engkau pernah berdiri,… Saat terluka, jangan lupa bahwa engkau pernah bahagia,… ” Begitulah, belajar adil pada setiap rasa. Setiap orang mempunyai masalah dalam hidupnya, tidak hanya kita. Ada yang terlihat penuh masalah, ada yang terlihat biasa saja. Namun apakah lantas kita bisa berkata, “ kayaknya enak ya jadi dia ” tanpa kita tahu apa sebenarnya beban yang orang lain pikul?. Percayalah, setiap masalah yang dibebankan kepada manusia sudah terukur dan disesuaikan pada kemampuan pundaknya masing-masing. Tinggal bagaimana kita, bisakah adil pada setiap rasa? Seringnya, ketika ada masalah ...

Kita

Aku dan kamu, menjadi kita. Hmmm, pernahkan kamu berfikir, kenapa kita ditemukan? Apakah untuk mendengarkan dan didengarkan? Untuk memberi atau menerima? Atau bahkan, untuk meninggalkan dan ditinggalkan? Pada akhirnya kata “kita” tidak lagi pernah ada. Kata seorang teman, hidup ini hanya perputaran peristiwa meninggalkan atau ditinggalkan. Saat ini, aku ataupun kamu bisa saja sedang menyukai seseorang. Segala kata cinta terungkapkan seakan tidak ada habisnya. Satu hal yang wajar. Itu berarti hati kita masih hidup. Tapi dipersimpangan jalan sana, masihkah kita yakin rasa suka itu akan tetap ada? Begitulah, rasa suka bisa kapan saja berubah menjadi benci, begitupun sebaliknya. Bahkan terkadang, rasa itu berubah tanpa ada peringatan atau aba-aba. Jika ada, tentu kita bisa menyiapkan obat sakit hati yang akan kita dapatkan nanti. Hari ini jika kita ditinggalkan seseorang yang kita sukai, kita menangis seakan kehilangan segala cinta yang kita punya. Tapi esok, saat harapan baru...

Bagaimana Kalau Kita Berbaikan Saja?

Manusia vs manusia. Rasanya wajar dalam kehidupan ini ada perbedaan. Kenapa kita harus selalu memaksakan, agar kita harus selalu sama? Sepertinya itu tidak mungkin terjadi. “Aku adalah aku. Dan kamu adalah kamu”. Perjalanan hidup kita hanya sebentar, bagaimana kalau kita berbaikan saja? Daripada kita menghujad, mencela, memandang buruk atas apa yang orang lain lakukan, apakah tidak lebih baik kita menerangi rumah kita masing-masing? Dengan harapan, sinar rumah kita memberikan kebaikan bagi orang-orang sekitar kita. Bagaimana kalau kita berbaikan saja? Kita ambil peran kita masing-masing. Sesekali kita berkompetisi, sesekali kita tertawa bersama. “ hati ini ingin sekali rasanya untuk berdekatan dengan hatimu. Agar kita tak lagi harus berteriak untuk menyampaikan sesuatu. Cukup dengan berbisik atau tatapan mata, lalu kamu menanggapi dengan tersenyum  menganggukkan kepala ”. Indahnya jika itu terjadi. Bagaimana kalau kita berbaikan saja? Aku punya cinta. Kamupun sam...

Where We Are

Sepertinya Negara kita tercinta sedang bergejolak ya akhir-akhir ini. Sehingga rasanya kita sulit untuk membedakan mana yang benar mana yang salah. Mana yang penipu mana yang ikhlas berbuat untuk negri tercinta? Tapi, saya tidak akan memaksakan pembaca untuk masuk membangun opini tentang masalah ini. Saya yakin, setiap orang memiliki sudut pandangnya sendiri. Hati yang bersih, tentu saja mudah melihat dan merasakan kebenaran. Tapi ntah kenapa saya ingin selalu bertanya? Where we are? dimana posisi kita saat ini? Tapi bukan maksudnya kepada siapa kita berpihak ya. Tapi apa yang sudah kita lakukan untuk Negara kita ini? terlebih, apa yang sudah kita lakukan untuk kehidupan kita, keluarga kita, teman-teman kita? Bukannya hidup itu “saat kita hadir, dunia berubah”. Lantas perubahan positif apa yang telah kita lakukan? Apa kehadiran kita dimuka bumi hanya merubah angka populasi manusia sajakah? Guys, jangan kalah sama bakteri. Bakteri itu dari ukurannya saja keciiil sangat. Dijamin...

Dreams Come True

Siapa yang tidak pernah bermimpi. Mimpi adalah kenyataan yang belum terealisasi. Siapa yang takut  bermimpi, saya pastikan hidupnya tanpa harapan. Sementara harapan adalah sesuatu yang membuat kita selalu bergairah menjalani hari demi hari. Ada yang bilang, jangan banyak berharap (apalagi sama manusia, aigooo) , karena harapan itu akan berujung kecewa. That’s right, seratus persen itu benar. Tapi kalimat itu benar buat orang yang susah move on, baperan, dan maaaaaaf sekali kalau saya lancang, menurut saya mungkin saja karena harapannya melebihi kepercayaannya terhadap Tuhannya. Saya pribadi, lebih senang mengurutkannya dengan DREAM – PRAY – ACTION. Sebisanya kita meletakkan “ Tuhan tahu yang terbaik buat saya ” diatas segalanya. Ketika gagal cobalah selalu ingat kalimat itu. Karena bagaimanapun hebatnya kita, namun rencana Tuhan sudah pasti lebih baik buat kita. “ Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan saja ” Namun jangan khawatir kawan “ Hasil, tida...

Tentang ilmu

Apa bedanya ilmu dan Pengetahuan? Saya teringat saat mengikuti salah satu seminar keilmuan di kampus dulu. Salah satu mentor yang menginspirasi menurut saya, berkata " Ilmu dan pengetahuan itu beda. Lantas apa bedanya?" saya segera bersiap mencatat apa yang akan ia katakan berikutnya. "orang yang memiliki ilmu, berbeda tidak dengan orang yang hanya memiliki pengetahuan?" Ia melanjutkan sambil tersenyum. Dari garis wajahnya, sepertinya ia ingin peserta mengartikan sendiri apa beda ilmu dan pengetahuan versinya itu. Menurut saya, orang yang memiliki ilmu memang berbeda dengan orang yang hanya memiliki pengetahuan. Orang yang memiliki ilmu cenderung rendah hati, mengamalkan ilmunya, dan senantiasa merasa kurang dengan ilmu yang ia miliki, sehingga ia tidak henti-hentinya ingin terus belajar dan belajar. Sedangkan orang yang memiliki pengetahuan, menurut saya lho ya, cenderung sombong, hanya tahu tapi tidak diamalkan, dan sudah merasa paling pintar sehingga mengangg...