Posts

Showing posts with the label Cerita inspiratif

Bagaimana Mengucapkan Selamat Tinggal

Image
Halo, Assalamu'alaikum wr wb.. Beberapa bulan yang lalu sebenarnya saya dapat permintaan untuk menulis artikel tentang ini. Tapi baru kali ini bisa terealisasikan. Sorry ya ☺ Jujur, saya juga bingung mau bercerita tentang apa saat ini. Tapi kata selamat tinggal ini mungkin bisa diartikan sebagai sebuah kesedihan. Atau mungkin juga awal dari kebahagiaan yang baru. Seorang teman bercerita, betapa susahnya dia melupakan seseorang yang pernah ia cintai. Yah, sangat susah untuknya mengucapkan selamat tinggal walaupun ia sangat ingin. Alasannya berbagai macam. Katanya, ia takut tidak lagi menemukan pengganti, ia takut sendiri, dan lain-lain. Walau sedikit, mungkin saya agak mengerti apa yang sedang berkecamuk di dada teman saya ini. Inikah yang dinamakan galau 😁. Ayo sini merapat biar aku bisikkan satu hal. Belajarlah untuk berani mengambil sikab. Lebih cepat bukannya lebih baik. Lebih cepat kamu mengambil sebuah keputusan, rasanya akan semakin cepat luka itu sembuh. Jangan...

Waktu Adalah Bagian Dari Penyembuhan

Image
Yah, sadar ataupun tidak, ada penyakit yang memang hanya bisa sembuh oleh waktu. Kalau kata seorang teman "apa kata waktu saja" Siang ini saya diberikan kesempatan untuk berbagi dengan seorang teman lama. Walau tidak bisa ngobrol panjang lebar karena satu hal, setidaknya banyak hikmah yang saya dapatkan. Terutama masalah hati. Layaknya seperti sebuah memori penyimpan data, hati juga kadang perlu di instal ulang untuk membuang virus-virus yang merusak komponen yang ada di dalamnya.  Masalah yang saya hadapi akhir-akhir ini sebenernya bukanlah masalah besar dan bahkan saya sendiri tahu bagaimana seharusnya menentukan arah agar bangkit kembali. Tapi disanalah letak peliknya. Dulu, mungkin saya adalah orang yang bertingkah bak malaikat yang memberikan arahan, pembelajaran, nasehat dan lain-lain kepada orang lain untuk menyelesaikan masalahnya.  Segala macam masalah diadukan kepada saya untuk dimintai solusinya. Bahkan kadang hati saya bergumam seakan kesal mendengar mas...

Atira Diniya

Masih pahit rasanya jika mengingat ternyata ia sudah tak lagi ada di dunia ini. Masih segar difikiran bagaimana senangnya bertegur sapa dengannya walau hanya sesekali lewat pesan singkat. Walau di akhir-akhir ini, kita tak lagi pernah bersapa karena aku sungguh sungkan sekali mengganggu kebersamaannya dengan keluarga barunya. Yah, aku bukanlah salah satu orang teristimewa baginya. Yang aku tahu, ia mempunyai banyak sekali sahabat yang begitu menyayanginya dan tentu saja mungkin lebih merasa sangat kehilangan. Aku hanya bagian kecil dari cerita hidupnya. "Tira, tau ndak, kalo kata de Tira tu orang yang paling baik" Itu yang pernah aku ucapkan disela obrolan simpang siur kami dikampus dulu. Sesekali aku memang senang menggodanya lalu tertawa melihat jawaban manjanya. Awal sekali ketertarikanku pada kepribadiannya adalah ketika kami praktikum di Bungus Sumatra Barat. Ditengah suasana praktikum Dinamika populasi dan Biologi laut yang sebenarnya benar-benar membuatku ingi...

Kita butuh pandaikah, atau pandai-pandai saja?

Kembali rasanya saya harus berpendapat yang mungkin akan melawan arus.  Langsung saja ya Sy : saya Mi : mbak icha ( saya panggil mbak karna dia cucu tertua walau sekarang masih kelas 1 SMA) Mi : teh, mbak kesal kali, temen-temen mbak tu dikelas nyontek aja. Masak ulangan nengok buku, buat kopekan. Enak kali orang tu nilainya bagus-bagus terus. Sy : kamu gimana? Nyontek juga ta mbak? Mi : ya enggaklah, mbak belajar, tapi mana bisa nyamain nilai orang tu kalau kayak gitu caranya. Matilah mbak ga dapat juara lagi ni kayaknya teh. Sy : emang kamu ga negur temen-temen kamu yang nyontek tu? Mi : udah teh, terus kata mereka zaman sekarang hidup ga perlu pandai, tapi pandai-pandai. Sy : hhmmm (masih memilah kata yang tepat).  Tapi malam itu saya tidak bisa memberikan saran apapun selain doa (wkwkwkwk). "Sorry mbak, soalnya ada ibuk, teteh ga brani banyak omong, hihi". Dari zaman saya SD, sampai tamat kuliah, memang banyak sekali kejadian seperti ini. Jangankan m...

Hanya Perlu Terbiasa

Jika kamu merasa hidupmu saat ini berbanding terbalik dengan yang kamu harapkan sebelumnya, kamu hanya perlu terbiasa menjalani kehidupan yang sekarang. Tak apa kalau diawal kamu kaget dan merasa sangat cemas. Namun yakinlah, masih ada banyak kejutan menyenangkan dikehidupanmu yang baru ini. Aku rasa, kita pasti bosan jika akhirnya kita hanya menjalani kehidupan yang begitu-bagitu saja. Maka saat ini, Tuhan memberikan kehidupan dengan cerita yang berbeda, maka jalanilah sampai akhirnya kamu terbiasa lalu menikmatinya. Jika saat ini kamu merasa lingkunganmu tidak lagi seramah yang dulu, kamu hanya perlu terbiasa untuk mudah tersenyum dan berfikir lebih positif lagi. Barangkali, kitalah yang perlu menjadi ramah terlebih dahulu. Mengundang kebaikan, tentu akan lebih baik bukan? Jika kamu merasa, bahwa kamu tidak lagi menjadi spesial, kamu hanya perlu terbiasa untuk menjadi biasa-biasa saja. Mungkin agar kita tahu bagaimana rasanya ditinggalkan agar tidak lagi meninggalkan. Jadi bingu...

Ini Aku, Bukan yang Lain

Ketika orang lain mengatakan "apa kamu gila dengan fikiran seperti itu?" Atau "apa kamu ga salah dengan mimpi-mimpi seperti itu?", atau sekedar mengernyitkan dahi melihat apa yang kita kerjakan, rasanya ingin sekali berteriak "ini aku!! Bukan yang lain". Orang lain bisa saja tertawa melihat buku agenda kita penuh dengan list impian. Bagi mereka, mungkin impian itu adalah impian gila yang tak masuk akal bisa dicapai. Tapi itu bagi mereka, bukan bagi kita yang menulis impian itu. Apa salahnya menulis apa yang kita inginkan, apa ada yang akan dirugikan? Apa melanggar undang-undang? Hari ini kita menulis impian besoknya kita ditangkap densus 88 gitu? Yah ga mungkinlah yaa.. Ini aku, bukan yang lain.. Saya jadi teringat dengan seorang junior saya ketika kuliah dulu. Sebenarnya dia seorang yang gampang sekali khawatir, terlebih selalu khawatir jika nilainya lebih rendah dari orang lain (hehehe). Dia selalu merendah jika bicara dengan dirinya sendiri. Sela...

Kok ga Kerja?? Sayang Sekolahnya.

Yap! Kata-kata ini terus menghantui saya akhir-akhir ini. Setiap kali ada pertemuan keluarga, kerabat, yang ditanyakan selalu hal yang sama. "Kok belum kerja, sayang sekolahnya", atau "mau kerja dimana? Sudah masukin lamaran kemana saja?" Dan sebagainya. Seperti pagi ini, bukan saat pertemuan keluarga si, tapi saat saya membeli sarapan untuk mengisi perut pagi-pagi. Saat sampai di suatu warung, saya masuk dan ahhh, ada ibu-ibu yang selalu kepo sama urusan keluarga saya. Mau keluar lagi rasanya tidak mungkin, ok saya putuskan untuk menerima segala kenyataan (hikhikhik). Benar saja, belum satu menit saya disitu saya langsung dihujani pertanyaan. Sy : saya ik : ibu kepo iw : ibu warung ik : jadi kamu sudah tamat kuliah ya? Sy : Alhamdulillah sudah ik : lulusan apa? Sy : Budidaya perairan fakultas perikanan dan ilmu kelautan Universitas Riau ( gaga saya ga jawab sedetail ini sih, takut ibunya bingung) ik : oowh, jadi kalo tamat dari situ tu mau kerja...

Katanya, Berusaha Saja

Hari ini, saya kembali dibenturkan pada sesuatu yang membuat hati saya terasa terbolak balik. Apakah saya harus berjalan terus, atau bahkan menyingkir saja?. Entah apa namanya perasaan ini. Khawatir, gelisah, cemburu, atau hanya perasaan takut akan mendapatkan kekecewaan. Katanya, berusaha saja. Semangat kita dalam berkeyakinan untuk menggapai suatu tujuan memang seperti pesawat terbang. Bisa naik, bisa turun. Kadang kita bisa mendapatkan sejuta alasan positif untuk tetap teguh berjuang dalam melakukan usaha, kadang kita juga bisa kehilangan alasan itu. Bahkan karna alasan sepele kita bisa merasa jatuh, dan enggan untuk kembali berjalan. Jangankan berjalan, untuk berdiri saja rasanya kita tidak mampu. Katanya, berusaha saja. Ketika saat ini saya merasa tidak ada lagi alasan untuk tetap maju, saya teringat akan kata-kata seseorang. Katanya, berusaha saja, soal hasil itu urusan Tuhan. Yah, saya fikir juga begitu. Seperti pada tulisan sebelumnya, "habiskan dulu jatah gagalnya...

Terikat

Pernahkah kamu merasa terikat? Terikat oleh keadaan yang tak kunjung membuat hidupmu nyaman. Selalu saja ada tuntutan yang seakan-akan hidupmu dipenuhi dengan kekurangan. Yah, mungkin begitulah karakter dasar dari manusia. Selalu merasa kurang dan terus mencari kesempurnaan. Saya tidak bicara kalau sifat ini adalah sifat yang sepenuhnya tidak baik. Tergantung bagaimana kita membawanya. Saya teringat ketika saya bertengkar dengan seseorang. Saat itu memang saya yang salah dan saya berniat untuk meminta maaf. Namun, permintaan maaf saya memakai kata “ maaf, aku salah. Aku Cuma manusia biasa yang tidak mungkin menjadi sempurna”. Tidak disangka, jawaban orang disebrang sana “ sama aku juga manusia yang tidak sempurna, tapi mencoba untuk menjadi sempurna tidak ada salahnyakan ?” Balasan singkat itu cukup mengena, bahkan saya mengingatnya sampai sekarang. Padahal percakapan itu terjadi pada saat saya masih duduk dibangku SMP. Minta maafnya benar, tapi berdalih “ hanya seorang ma...

Pengakuan

Siapa yang tidak memiliki rahasia dalam hdupnya. Saya rasa semua orang memiliki rahasia terpenting tentang dirinya yang ia sendiri tidak ingin diketahui seseorang atau bahkan semua orang.  Saya punya rahasia, banyak sekali. Terutama rahasia tentang betapa banyaknya kesalahan yang telah saya lakukan dimasa lalu. Untungnya, Tuhan masih menutupinya. Menjaganya tersimpan rapih agar tidak diketahui orang lain. Andai saja Tuhan tiba-tiba membukanya, bukan tidak mungkin saya hanya akan hidup seorang diri. Namun demikian, ada kesalahan yang harus kita akui. Jika itu kesalahan kita kepada Tuhan, kita bisa bertaubat dan meminta ampunan. Jika itu kesalahan kepada manusia, mau tidak mau kita memang harus membuat pengakuan dan meminta maaf tentunya. Tidak cukup hanya membuat pengakuan kepada Tuhan. Jika tidak, rasanya kita akan terus dihantui perasaan berdosa biar bagaimanapun kita menutupinya supaya terlihat bail-baik saja. Tapi ketika kita membuat pengakuan lalu meminta maaf, percaya...

Sudahkah Kita Menemukannya?

Pagi ini ada yang request satu tulisan dengan judul ini. Rada bingung si mau mengawalinya dengan apa, cari inspirasi sana sini, tapi semoga terpuaskan ya dengan sudut pandang yang sesederhana ini. Sudahkah kita menemukannya? Menemukan apa yang sebenarnya jadi tujuan hidup kita di dunia ini. Saya jadi teringat ketika berorganisasi dulu. Dalam membuat program kerja, biasanya dibagi menjadi tiga bagian. Program Jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Bisa saja itu kita terapkan dalam kehidupan kita sebagai manusia. Apa yang kita lakukan di dunia ini, bermanfaat untuk jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Jangka pendek dan menengah untuk kehidupan kita di dunia, dan jangka panjang adalah untuk kehidupan kita setelah selesai dengan kehidupan di dunia ini. Alias akhirat kelak. Sudahkah kita menemukannya? Sesuatu yang akan membuat kita bahagia, didunia maupun di akhirat. Apa sajakah? Amalan? Sahabat? Pasangan? Keluarga? Semuanya bisa membuat kita bahagia di ...

Do'a

Setiap manusia yang mempunyai iman, sudah pasti pernah berdoa. Karna berdoa, adalah salah satu bukti keimanan seseorang kepada Tuhannya. Bukti kalau ia percaya Tuhan dapat mengabulkan apa yang ia inginkan, bukti pengharapan seorang hamba yang tidak dapat berbuat apa-apa jika tidak ada campur tangan Tuhannya. Maka dari itu, menurut saya orang-orang yang rajin berdoa sudah pasti terlepas dari sifat sombong. Dulu saya sering sekali memaksakan orang-orang terdekat untuk berdoa dan minta sebanyak-banyaknya. Saya sedikit kesal ketika ada teman yang berkata "ya Allah, dapat B aja dimata kuliah ini jadiiilah" padahal apa salahnya jika kita minta dapat A sekalian, "nanggung kali bah, cemananya si kawan ini (nah mulai kluar bataknya ni)". Bukan naif dan ga rasional si jika memamg mata kuliah itu sulit sekali mendapat nilai sempurna. Tapi rasanya tidak ada salahnyakan kita minta banyak-banyak sama Tuhan kita sendiri. "Lah wong Tuhan itu maha kaya kok yoo (lha kok jad...

Kupu-Kupu

Suka kupu-kupu?  Sebenarnya saya sendiri tidak begitu mengidolakan kupu-kupu. Tapi kupu-kupu mengingatkan saya pada seseorang (eheem, siapa ya??)  Lanjut, Beberapa kali saya mendengar filosofi tentang lahirnya seekor kupu-kupu. Tentang perjuangan kupu-kupu untuk menjadi cantik. Telur, ulat, kepompong, kupu-kupu (kasian deh lu :) ). Itulah fase metamorfosis kupu-kupu. Namun kali ini saya cuma akan membahas dari kepompong ke kupu-kupu saja. Itupun saya mengutip dari cerita banyak orang di seminar-seminar motivasi. Sekedar mengulang-ulang, karna sesuatu yang sering diulang biasanya adalah sesuatu yang penting. Makan misalnya, rutin kita ulang karna makan adalah sesuatu yang penting hehehe :).  Katanya, ketika kepompong berubah menjadi kupu-kupu, kita tidak boleh menolong kupu-kupu itu. Karna bisa membuat kupu-kupu itu cacat atau terlahir tidak sempurna. Mungkin saja karna kita tidak tahu, merasa kasian dengan perjuangan kupu-kupu yang sepertinya sulit sek...

Belajar Adil pada Rasa

Bagi saya, hidup adalah belajar. Mungkin begitu juga bagi sebagian orang. Bagi saya sendiri, belajar itu diawali dengan mencoba melakukan sesuatu, jika salah, lalu mencoba memahami letak kesalahan, dan mencoba memperbaiki (Aksi-Fahami-Perbaiki). Kali ini, kita akan mencoba belajar untuk adil pada setiap rasa. Kalau kata lagu “ Aku Bisa ” nya Maidani, “ Saat terjatuh, jangan lupa bahwa engkau pernah berdiri,… Saat terluka, jangan lupa bahwa engkau pernah bahagia,… ” Begitulah, belajar adil pada setiap rasa. Setiap orang mempunyai masalah dalam hidupnya, tidak hanya kita. Ada yang terlihat penuh masalah, ada yang terlihat biasa saja. Namun apakah lantas kita bisa berkata, “ kayaknya enak ya jadi dia ” tanpa kita tahu apa sebenarnya beban yang orang lain pikul?. Percayalah, setiap masalah yang dibebankan kepada manusia sudah terukur dan disesuaikan pada kemampuan pundaknya masing-masing. Tinggal bagaimana kita, bisakah adil pada setiap rasa? Seringnya, ketika ada masalah ...

Kita

Aku dan kamu, menjadi kita. Hmmm, pernahkan kamu berfikir, kenapa kita ditemukan? Apakah untuk mendengarkan dan didengarkan? Untuk memberi atau menerima? Atau bahkan, untuk meninggalkan dan ditinggalkan? Pada akhirnya kata “kita” tidak lagi pernah ada. Kata seorang teman, hidup ini hanya perputaran peristiwa meninggalkan atau ditinggalkan. Saat ini, aku ataupun kamu bisa saja sedang menyukai seseorang. Segala kata cinta terungkapkan seakan tidak ada habisnya. Satu hal yang wajar. Itu berarti hati kita masih hidup. Tapi dipersimpangan jalan sana, masihkah kita yakin rasa suka itu akan tetap ada? Begitulah, rasa suka bisa kapan saja berubah menjadi benci, begitupun sebaliknya. Bahkan terkadang, rasa itu berubah tanpa ada peringatan atau aba-aba. Jika ada, tentu kita bisa menyiapkan obat sakit hati yang akan kita dapatkan nanti. Hari ini jika kita ditinggalkan seseorang yang kita sukai, kita menangis seakan kehilangan segala cinta yang kita punya. Tapi esok, saat harapan baru...

Bagaimana Kalau Kita Berbaikan Saja?

Manusia vs manusia. Rasanya wajar dalam kehidupan ini ada perbedaan. Kenapa kita harus selalu memaksakan, agar kita harus selalu sama? Sepertinya itu tidak mungkin terjadi. “Aku adalah aku. Dan kamu adalah kamu”. Perjalanan hidup kita hanya sebentar, bagaimana kalau kita berbaikan saja? Daripada kita menghujad, mencela, memandang buruk atas apa yang orang lain lakukan, apakah tidak lebih baik kita menerangi rumah kita masing-masing? Dengan harapan, sinar rumah kita memberikan kebaikan bagi orang-orang sekitar kita. Bagaimana kalau kita berbaikan saja? Kita ambil peran kita masing-masing. Sesekali kita berkompetisi, sesekali kita tertawa bersama. “ hati ini ingin sekali rasanya untuk berdekatan dengan hatimu. Agar kita tak lagi harus berteriak untuk menyampaikan sesuatu. Cukup dengan berbisik atau tatapan mata, lalu kamu menanggapi dengan tersenyum  menganggukkan kepala ”. Indahnya jika itu terjadi. Bagaimana kalau kita berbaikan saja? Aku punya cinta. Kamupun sam...

Where We Are

Sepertinya Negara kita tercinta sedang bergejolak ya akhir-akhir ini. Sehingga rasanya kita sulit untuk membedakan mana yang benar mana yang salah. Mana yang penipu mana yang ikhlas berbuat untuk negri tercinta? Tapi, saya tidak akan memaksakan pembaca untuk masuk membangun opini tentang masalah ini. Saya yakin, setiap orang memiliki sudut pandangnya sendiri. Hati yang bersih, tentu saja mudah melihat dan merasakan kebenaran. Tapi ntah kenapa saya ingin selalu bertanya? Where we are? dimana posisi kita saat ini? Tapi bukan maksudnya kepada siapa kita berpihak ya. Tapi apa yang sudah kita lakukan untuk Negara kita ini? terlebih, apa yang sudah kita lakukan untuk kehidupan kita, keluarga kita, teman-teman kita? Bukannya hidup itu “saat kita hadir, dunia berubah”. Lantas perubahan positif apa yang telah kita lakukan? Apa kehadiran kita dimuka bumi hanya merubah angka populasi manusia sajakah? Guys, jangan kalah sama bakteri. Bakteri itu dari ukurannya saja keciiil sangat. Dijamin...

Dreams Come True

Siapa yang tidak pernah bermimpi. Mimpi adalah kenyataan yang belum terealisasi. Siapa yang takut  bermimpi, saya pastikan hidupnya tanpa harapan. Sementara harapan adalah sesuatu yang membuat kita selalu bergairah menjalani hari demi hari. Ada yang bilang, jangan banyak berharap (apalagi sama manusia, aigooo) , karena harapan itu akan berujung kecewa. That’s right, seratus persen itu benar. Tapi kalimat itu benar buat orang yang susah move on, baperan, dan maaaaaaf sekali kalau saya lancang, menurut saya mungkin saja karena harapannya melebihi kepercayaannya terhadap Tuhannya. Saya pribadi, lebih senang mengurutkannya dengan DREAM – PRAY – ACTION. Sebisanya kita meletakkan “ Tuhan tahu yang terbaik buat saya ” diatas segalanya. Ketika gagal cobalah selalu ingat kalimat itu. Karena bagaimanapun hebatnya kita, namun rencana Tuhan sudah pasti lebih baik buat kita. “ Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan saja ” Namun jangan khawatir kawan “ Hasil, tida...

Tentang ilmu

Apa bedanya ilmu dan Pengetahuan? Saya teringat saat mengikuti salah satu seminar keilmuan di kampus dulu. Salah satu mentor yang menginspirasi menurut saya, berkata " Ilmu dan pengetahuan itu beda. Lantas apa bedanya?" saya segera bersiap mencatat apa yang akan ia katakan berikutnya. "orang yang memiliki ilmu, berbeda tidak dengan orang yang hanya memiliki pengetahuan?" Ia melanjutkan sambil tersenyum. Dari garis wajahnya, sepertinya ia ingin peserta mengartikan sendiri apa beda ilmu dan pengetahuan versinya itu. Menurut saya, orang yang memiliki ilmu memang berbeda dengan orang yang hanya memiliki pengetahuan. Orang yang memiliki ilmu cenderung rendah hati, mengamalkan ilmunya, dan senantiasa merasa kurang dengan ilmu yang ia miliki, sehingga ia tidak henti-hentinya ingin terus belajar dan belajar. Sedangkan orang yang memiliki pengetahuan, menurut saya lho ya, cenderung sombong, hanya tahu tapi tidak diamalkan, dan sudah merasa paling pintar sehingga mengangg...

Agar Legowo ditinggal Teman

Hmmmm…. Ada yang merasa ditinggal temen? Atau lebih mendalam, ada yang merasa dikhianati temen? Merasa terasing, merasa terpojok, yaah merasa sendirian pasti. Kadang hati dirundung perasaan tidak enak, sesek, dan selalu merasa setiap orang sedang menceritakan kejelekan kita. Akhirnya kita jadi malas melakukan hal-hal jika berhubungan dengan mereka. Misalnya dilingkugan sekolah, di lingkungan kampus, atau bahkan dilingkungan kerja. Sakitan mana, dikhianati pacar, atau dikhianati temen? Nah kalau pertanyaannya seperti ini, setiap orang pasti punya pandangan sendiri. Bisa jadi tergantung dari kualitas suatu hubungan, kondisi psikologis orangnya, latar belakang cerita pengkhianatan itu sendiri dan lain-lain. Kalau pertanyaannya dirubah gimana? Banyakan mana masalah yang timbul akibat dikhianati temen atau pacar? Lagi-lagi mungkin setiap orang punya pandangan berbeda ya. Cuma sejauh mata memandang ( hhmm ), menurut saya lho ya…, ketika dikhianatin temen, dunia sea...